Materi Interferensi
Istilah interferensi pertama kali digunakan oleh Weinreich (1953) untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur bilingual atau dwibahasawan, bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian. Interferensi juga berkaitan dengan istilah bahasa yang lain seperti intergrasi, alih kode dan campur kode. Alih kode yang merupakan peristiwa pergantian bahasa oleh seseorang penutur dikarenakan adanya sebab tertentu yang dilakukan secara sadar, sedangkan campur kode ialah penggunaan serpihan-serpihan bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa namun tidak dikatakan suatu kesalahan karena penyimpangan bahasa. Hal tersebut terjadi dalam interfensi yang juga menggunakan unsur-unsur bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa namun dianggap sebagai suatu kesalahan karena menyimpang dari kaidah bahasa yang digunakan. Penyebab terjadinya interferensi yaitu terjadi pada kemampuan si penutur dalam menggunakan bahasa tertentu sehingga dia dipengaruhi oleh bahasa lain, biasanya interferensi terjadi dalam menggunakan bahasa kedua (B2) dan yang berinterferensi ke dalam bahasa kedua yaitu bahasa pertama atau bahasa ibu.
Menurut Nababan (dalam Chaer dan Agustina, 2010) mengatakan bahwa proses interferensi disebut dengan “Pengacauan”, dilihat dari diagram dibawah ini yang diadaptasi dengan sedikit modifikasi dari Ervin dan Osgood :
Diagram diatas sebelah kiri menunjukkan tindak bahasa penutur yang berkemampuan majemuk yang disitu terdapat dua perangkat isyarat (I) atau bahasa yaitu perangkat isyarat IA dan IB. Kedua perangkat isyarat ini dihubungkan oleh satu perangkat proses mediasi representasi (rm) yang sama, yaitu rm --------- im. Pada sisi interprtasi (im), proses mediasi dihubungkan dengan dua perangkat penerimaan atau respon (R) yang terdapat pada kedua bahasa yaitu bahasa A dan bahasa B. Oleh karena proses mediasinya sama, maka masukan dari IA dapat saja menjadi keluaran pada RA. Jika terjadi yang seperti hal tersebut maka terjadilah proses yang disebut interferensi seperti yang telah dikatakan oleh Nababan yang menyebut interferensi dengan pengacauan. Hartman dan Storck (1972:115) tidak menyebut interferensi dengan pengacauan namun disebutnya dengan “kekeliruan” yang terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua.
Dalam diagram di atas ada ditunjukkan proses interpretaso yaitu gerak dari isyarat (I) ke interpretasi. Sebaliknya, ada juga proses representasi atau proses pengungkapan yaitu gerak dari R ke I. Baik dalam proses intrepetasi maupun proses representasi bisa terjadi interferensi. Dalam hal ini interferensi yang terjadi dalam proses representasi tersebut disebut interferensi reseptif yaitu berupa penggunaan bahasa B (dalam diagram diatas) dengan diresapi unsur-unsur bahasa A. sedangkan interferensi yang terjadi pada proses representasi disebut interferensi produktif. Wujudnya berupa penggunaan bahasa A tetapi dengan unsur dan struktur bahasa B.
Interferensi reseptif dan interferensi produktif yang terdapat dalam tindak laku bahasa penutur bilingual disebut interferensi perlakuan (performance interference). Interferensi perlakuan biasa terjadi pada mereka yang sedang belajar bahasa kedua, sebab itulah disebut juga dengan interferensi belajar (learning interference) atau juga disebut dengan interferensi perkembangan (developmental interference). Namun dalam bidang sosiolinguistik yang banyak dibicarakan adalah interferensi yang dikemukakan oleh Weinrech (1953) dalam bukunya Language in Contact. Menurut Weinrech, interferensi yang dimaksud adalah interferensi yang tampak dalam perubahan sistem suatu bahasa baik mengenai sistem fonologi, morfologi maupun sistem lainnya. Hal tersebut menjadikan interferensi mengenai sistem disebut dengan interferensi sistemik.
B. Penyebab Terjadinya Interferensi
Interferensi dapat terjadi dalam semua produksi bahasa, lewat tuturan maupun tulisan. Interferensi dapat terjadi karena dikacaukannya unsur-unsur kosakata dalam struktur kata dan struktur tata bahasa antara dua bahasa. Beberapa faktor- faktor terjadinya interferensi menurut Sukardi, 1999 (dalam Sekartaji, 2013) adalah sebagai berikut.
- Kedwibahasaan peserta tutur
Kedwibahasaan merupakan kunci terjadinya interferensi karena dari dalam diri penutur yang berdwibahasa terjadi kontak antar bahasa yang berpengaruh pada bahasa sumber, baik dari bahasa asing maupun bahasa daerah. Selanjutnya kontak bahasa tersebutlah yang pada akhirnya mengakibatkan interferensi. Dalam penelitian ini kontak bahasa yang terjadi pada bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan obyek penelitian berbahasa sumber bahasa Jawa, sedangkan pencipta dan pelantun lagu merupakan dwibahasawan pengguna bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dalam komunikasinya. Oleh karena sebab yang dikemukakan tersebutlah sehingga mungkin mengakibatkan seorang bertutur ataupun menulis dengan bahasa Jawa dengan menggunakan pola bahasa Indonesia.
- Tipisnya Kesetiaan Pemakai Bahasa
Tipisnya kesetiaan pengguna bahasa cenderung mengakibatkan hal yang kurang baik. Tindakan seperti pengabaian kaidah bahasa yang tengah digunakan dengan pengambilan unsur- unsur bahasa lain dengan sesuka hati dan tidak tertata akan mengakibatkan munculnya berbagai macam bentuk interferensi, baik dalam bertutur kata maupun berkarya. Interferensi yang dilakukan karena tipisnya kesetiaan dalam pemakaian bahasa juga dapat terjadi karena sifat gengsi pemakai bahasa, sehingga cederung menggunakan kata yang lebih modern untuk mengungkapkan suatu hal dengan bahasa lain, padahal dalam bahasa sumber sudah ada padanan kata tersebut.
- Kurangnya Kosakata Bahasa dalam Menghadapi Kemajuan Jaman
Kosakata atau perbendaharaan kata pada suatu bahasa umumnya hanya sebatas pada ungkapan- ungkapan yang ada di tengah masyarakat yang bersangkutan. Perkembangan dalam pergaulan pada masyarakat yang sifatnya benar- benar baru, masyarakat tersebut akan mengenal konsep yang baru pula, yang dirasa perlu untuk dimiliki, karena memang belum memiliki kosakata yang bermakna sama untuk mengungkapkan hal baru yang dipelajari. Interferensi semacam ini biasanya memang sengaja dilakukan karena kurangnya perbendaharaan kata yang dimiliki suatu masyarakat. Hal semacam itu seharusnya segera diintegrasikan karena sangat memerlukan perbendaharaan baru.
- Menghilangnya Kosakata yang Jarang Digunakan
Kosakata yang jarang digunakan lama- kelamaan akan menjadi tenggelam dan uang yang lama- kelamaan akan menghilang jika tidak pernah digunakan lagi. Jika bahaa terebut menghadapi konep yang baru maka kata- kata yang telah hilang tadi akan digunakan kembali untuk menampung konep baru terebut. Jika tidak demikian konsep baru terebut diwadahi dengan bahasa pengungkap konsep baru, sehingga terjadilah interferensi.
- Kebutuhan Sinonim
Penggunaan bahasa dalam sebuah karya perlu adanya pemilihan kata yang bervariasi, sehingga penulis terkadang menghindari kata- kata yang telah dipergunakan untuk menulis pada kata- kata sebelumnya, sehingga terhindar dari pengulangan kata yang dapat membosankan pembaca maupun pendengar. Dalam hal inilah kebutuhan akan sinonim sangat diperlukan, karena pentingnya unsur sinonim itulah, sehingga pemakai bahasa sering melakukan interferensi berupa penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa lain untuk menambah sinonim kebutuhan sinonim dari kata yang sudah ada pada bahasa yang tengah digunakan.
- Prestise Bahasa sumber dan Gaya Bahasa
Pendorong timbulnya interferensi dapat ditimbulkan karena prestise bahasa sumber. Penutur ingin menunjukkan bahwa dirinya dapat menguasai bahasa yang dianggap berprestise itu. Prestise itu juga dapat berkaitan dengan faktor keinginan untuk bergaya dalam bahasa, sehingga interfereni dapat timbul karena biaanya pengguna bahasa biasanya mencampuradukkan bahasa untuk bergaya dalam bahasa. Misalnya penggunaan bahasa Indonesia yang diselang-seling menggunakan bahasa Inggris, karena bahasa Inggris merupakan bahasa yang dianggap berprestise tinggi, sehingga dapat digunakan untuk bergaya dalam bahasa.
- Terbawanya Kebiasaan dalam Bahasa Ibu
Kebiasaan bahasa ibu juga dapa mengakibatkan terjadinya interferensi, hal ini terjadi pada saat seseorang tengah menggunakan bahasa keduanya. Bahasa ibu yang dimaksudkan adalah bahasa yang pertama kali diperkenalkan dan dikuasai oleh anak. Misalnya sejak anak mulai dapat berbicara sudah dibiasakan mengenai bahasa Jawa, dapat dikatakan bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa pertama. Keterlibatan kebiasaan dalam menggunakan bahasa Jawa pada bahasa lain dapat mengakibatkan percampuradukan kosakata maupun pola. Contoh nyata pada saat orang berbicara menggunakan bahasa Indonesia, seorang yang berdwibahasa terkadang dalam pemikiran sudah memolakan pada bahasa Indonesia yang tengah digunakan, akantetapi yang muncul dengan tiba- tiba bukan kosakata bahasa Indonesia, melainkan kosakata atau bentuk pola yang berasal dari bahasa Jawa, yang sangat dikuasai. Keadaan ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan dalam penguasaan bahasa, hal ini akan menyebabkan pemakai bahasa pertama mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa ke dua. Semua hal tersebut bisa terjadi karena pengguna bahasa yang berdwibahasa meminjam unsur- unsur dari bahasa pertama yang lebih dikuasai daripada bahasa ke dua yang sedang digunakan.
C. Bentuk Interferensi
Seperti yang sudah dijelaskan secara singkat pada poin hakikat interferensi di atas tentang bentuk dari interferensi menurut Weinrech, maka pada poin ini akan lebih dijelaskan secara rinci terkait bentuk interferensi. Menurut Kridalaksana (dalam Sekartaji, 2013), interferensi terjadi dalam system fonologis, sistem gramatikal, sistem leksikal dan sistem simantik suatu bahasa.
- Interferensi Fonologi : Suwito (dalam Sekartaji, 2013) menjelaskan bahwa interferensi tataran tata bunyi tampak jelas apabila penutur mengucapkan kata- kata berbahasa Jawa yang berawalan bunyi plosif bersuara, baik bilabial [b], dental [d], palatal [j] maupun velar [g]. Misalnya pelafalan untuk bebek adalah [bhɛbhɛ?] bukan [bebe?], menggali tanah adalah [ḑuḑU?- ḑuḑU?], selain itu gejala tersebut juga tampak jika bunyi tersebut mengawali kata- kata yang menunjukkan nama tempat. Dalam bahasa Jawa kata tempat yang didahului huruf tersebut akan diucapkan didahului dengan nasal. Misalnya nama- nama kota Bogor, Demak, Jambi dan Garut akan diucapkan dengan [mbᴐgᴐr], [ndǝma?], [njambi] dan [ŋgarUt]. Interferensi fonologi terjadi apabila penutur mengungkapkan kata-kata dari suatu bahasa dengan menyisipkan bunyi-bunyi bahasa dari bahasa lain, fonem yang digunakan dalam suatu bahasa menyerap dari fonem- fonem bahasa lain. Misalnya untuk mengucapkan atau menulis padha (BJ), penutur bahasa Indonesia yang mempelajari bahasa Jawa mengucapkan atau menuliskannya dengan podo (BI) . Interferensi yang terjadi berupa pengacauan fonim vokal /ᴐ/ dengan /o/, serta fonem konsonan /ḑ/ dengan /d/, bunyi bahasa terdapat dalam gejala interferensi fonologis dapat berupa bunyi vokal, semi vokal, konsonan, diftong dan unsur bunyi yang lain. Kridalaksana membagi interferensi fonologis menjadi dua macam, yaitu interferensi fonemis dan interferensi fonis. Interferensi Fonemis, ialah interferensi yang dapat menyebabkan kesalahpahaman, karena kata yang dimaksud akan mengalami perbedaan arti saat berinterferensi. Sebagai contoh interferensi fonemis adalah ketika penutur mengucapkan kata [wǝḑi] yang berarti ‘pasir’, padahal yang dimaksud penutur adalah [wǝdi] yang berarti ‘takut’. Sedangkan Interferensi Fonis, merupakan interferensi fonologis berupa bunyi pada suatu bahasa yang diucapkan dengan cara atau kebiasaan dari bahasa lain, akan tetapi tidan berdampak pada perubahan fonem dalam bahasa sasaran. Contoh interferensi fonis misalnya ketika seseorang yang sedang menggunakan bahasa Jawa melafalkan fonim /d/ sama dengan pelafalan fonim /d/ pada bahasa Indonesia. Pada bahasa Indonesia fonim /d/ merupakan bunyi apiko–palatal, sedangkan pada bahasa Jawa fonim /d/ merupakan bunyi apikodental.
- Interferensi Morfologis : Interferensi morfologi terjadi jika dwibahaswan mengidentifikasi morfem atau hubungan ketatabahasaan pada system bahasa kedua dengan morfem atau hubungan ketatabahasaan pada system bahasa pertama dan menggunakannya dalam tuturan pada bahasa kedua serta sebaliknya. Suwito (dalam Sekartaji, 2013) menjelaskan bahwa interferensi karena tata bentuk kata terdiri atas afiksasi, reduplikasi dan komposisi, maka gejala interferensi yang timbul juga meliputi ketiga proses pembentukan kata tersebut.
- Interferensi Leksikal : Interferensi dalam bidang leksikal merupakan pengacauan dalam hal penggunaan kosakata, dapat melibatkan kata- kata dasar, kata majemuk maupun frasa. Contoh interferensi leksikal yang terjadi dari bahasa Indonesia ke bahasa jawa yaitu dibawah ini :
...bali saka merantau, apa kowe isih kaya dhek semana...
“...pulang merantau, apa kamu masih seperti yang dulu...”
Wong tuwa mesthine kudu gelem melu terjun ing ndonyane para mudha
“ Orang tua semetinya harus mau ikut terjun di dunia anak muda”
Kata merantau merupakan kosakata verba dalam bahasa Indonesia, di dalam bahasa Jawa kata yang memiliki kedudukan makna yang sama dan sepadan adalah lelana. Kata terjun yang dimaksudkan dalam contoh kalimat adalah ikut berperan serta, hal ini menjadi penyebab interferensi karena kata terjun merupakan verba dalam bahasa Indonesia. Bahasa Jawa memiliki persamaan kata untuk menggantikan maksud dari kata terjun, yaitu nyemplung. Kalimat di atas jika ditulis dalam bahasa Jawa yang tepat menjadi di bawah ini :
...bali saka lelana, apa kowe isih kaya dhek semana...
“...pulang merantau, apa kamu masih seperti yang dulu...”
Wong tuwa mesthine kudu gelem melu nyemplung ing ndonyane para
mudha
“ Orang tua semetinya harus mau ikut terjun di dunia anak muda”
DAFTAR RUJUKAN RANGKUMAN
Agustina, A. C. (2010). Sosiolinguistik : Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamil, R. d. (1995). Sosiolinguistik (sosiolinguistic). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suhardi, B. (2009). Pedoman Peneleitian Sosiolinguistik. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Pitoyo, A. (2017). Interferensi Bahasa Jawa Ke Dalam Bahasa Indonesia Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Dalam Perkuliahan Keprotokolan. JURNAL PENA INDONESIA (JPI), 190-195.
Sekartaji, N. D. (2013). Interferensi Bahasa Indonesia Dalam Bahasa Jawa Pada Album Campursari Tresna Kutha Bayu (Skripsi). 17-19.
51706130015/PBSI-VI-FKIP/UNIM
Komentar
Posting Komentar