Analisis Wacana Kritis Roger Flower

Menurut pernyataan Roger Fowler (dalam Eriyanto, 2012:132) bahwa penggunaan bahasa merupakan praktik sosial yang membawa implikasi dan ideologi tertentu. Pandangan tersebut yang nantinya digunakan untuk menganalisis fenomena komunikasi yang penuh kesenjangan, yakni adanya ketidaksetaraan antara pemberitaan laki-laki dan perempuan dalam berita kekerasan terhadap perempuan. Melalui pemilihan kosakata dan tata bahasa dalam pandangan linguistik kritis yang menjadi titik perhatian Roger Fowler dapat digambarkan bagaimana peristiwa dan aktor dalam wacana berita kriminal ditampilkan dalam teks, untuk membongkar misrepresentasi dan diskriminasi dalam wacana publik.

Pernyataan di atas merupakan strategi yang bisa berupa karakteristik dan sudut pandang yang tercermin dalam bahasa yang digunakan. Pada masa Orde Baru misalnya, bahasa dalam media dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan dengan membentuk opini positif yang dihadirkan dalam pemberitaan melalui kosakata dan tata bahasa. Salah satunya adalah dengan memunculkan kata eufemisme (penghalusan) dalam media yang berfungsi untuk menipu massa, sehingga nalar masyarakat tidak berfungsi lagi. Dengan menggunakan pilihan kata yang menimbulkan makna penghalusan maka realitas yang sebenarnya akan tertutupi. Kemudian, tumbangnya masa Orde Baru digantikan dengan masa Reformasi, dikenal juga dengan masa kebebasan. Pada bidang kebahasaan, bahasa dalam media tidak luput mengalami perkembangan ke arah yang lebih bebas. Penggunaan bahasa menjadi lebih berani dan cenderung vulgar digunakan untuk menyampaikan peristiwa agar realitas sesungguhnya dapat terlihat.

DAFTAR PUSTAKA

Ghassani, A, Mega. Wacana Berita Kriminal Koran Jawa Pos (Analisis Wacana Kritis Roger Flower). 2017. Surabaya


Komentar

Postingan Populer