MODEL TANDA
1. Model Tanda Saussure
Ferdinand de Saussure (1857 -1913) memberikan definisi mengenai tanda dan menjabarkan tanda bahasa ke dalam dua unsur yang membangunnya: “The linguistic sign unites, not a thing and a name, buta concept and a sound image” (Tanda bahasa tidak memadukan sesuatu dan sebuah nama, tetapi suatu konsep dan suatu citra bunyi) (Saussure, 1959:66). Perhatikanlah bahwa Saussure tidak membicarakan tanda secara umum, tetapi suatu kelompok tanda tertentu, yaitu tanda bahasa (boleh juga disebut tanda verbal). Berdasarkan definisi itu, tanda terjadi dari dua unsur (konsep dan imaji bunyi), yang berpadu menjadi satu kesatuan, yakni sebuah tanda. Konsepsi tanda sebagai sesuatu yang terdiri atas dua bagian itu membuat konsep tanda Saussure tergolong ke dalam model tanda diadik. Saussure menggunakan istilah penanda untuk imaji bunyi dan petanda untuk konsep atau makna.
Hal yang patut diperhatikan mengenai definisi tanda Saussure ialah tanda bersifat immaterial. Sebab di mata Saussure tanda (jangan lupa, ia berbicara tentang tanda verbal) tidak berwujud materi. Jelas bahwa konsep selalu abstrak, ia hanya ada di dalam pikiran. Adapun imaji bunyi bukanlah bunyi (bunyi bersifat material). Imaji bunyi adalah kesan mental tentang bunyi, bukan bunyi itu sendiri. Imaji bunyi adalah kesan yang tertangkap oleh pancaindera setelah men dengar bunyi (Saussure, 1959:66). Perlu ditegaskan kembali, definisi immaterial mengenai tanda ini adalah versi asli definisi tanda Saussure sebagaimana tertulis dalam bukunya.
Berpadunya imaji bunyi (disebut penanda) dan konsep (petanda) membentuk sebuah tanda. Proses itu disebut penandaan (istilah kodifikasi acapkali juga dipergunakan meski dengan maksud yang agak berbeda, lihat bab mengenai kode). Penandaan terjadi manakala sebuah penanda disandingkan dengan sebuah petanda. Untuk menjadi sebuah tanda, suatu penanda membutuhkan petanda. Dalam hubungan penanda dan petanda itu, sebuah penanda dapat memiliki hubungan dengan lebih dari satu petanda. Contohnya ialah kata bisa, yang memiliki dua petanda: (1) 'dapat' dan (2) 'racun'. Dalam hal itu, sebenarnya penandaan memproduksi dua tanda. Sebaliknya juga demikian. Sebuah petanda dapat memiliki hubungan dengan lebih dari satu penanda. Contohnya, petanda “memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu dapat disandingkan dengan penanda (1) /dapat/ dan (2) /bisa/. Dalam hal ini pun, sebenarnya kita berbicara tentang penandaan yang memproduksi dua tanda.
Pada hakikatnya, penandaan -berpadunya penanda dan petanda menjadi sebuah tanda merupakan suatu relasi. Dalam suatu tanda terdapat relasi antara penanda dengan petanda. Relasi itu bersifat arbitrer atau semena. Dikatakan semena karena tidak terdapat sebab logis mengapa suatu penanda berelasi dengan suatu petanda tertentu. Dalam tanda bahasa meja, tidak terdapat sebab logis mengapa imaji bunyi /meja/ berelasi dengan konsep 'meja'. Pertautan di antara penanda dan petanda tersebut terjadi melalui kesepakatan dalam masyarakat bahasa Indonesia. Adapun kesepakatan itu dicapai tanpa landasan logis, tetapi berdasarkan sifat semena tanda.
Sifat semena itu terdapat juga dalam relasi antara tanda -jadi, paduan penanda dan pe tanda dengan objek yang dirujuk. Misalnya, benda yang dalam bahasa Indonesia disebut meja (suatu objek empiris) berelasi secara semena dengan tanda yang digunakan untuk merujuk padanya, yaitu kata meja (sebuah tanda bahasa). Di sini pun tidak terdapat kaitan logis, tetapi kesepakatan di antara masyarakat bahasa Indonesia. Karena merupakan kesepakatan suatu masyarakat bahasa tertentu, masyarakat bahasa lain tentu memiliki kesepakatan berbeda mengenai penandaan untuk objek yang sama. Itu sebabnya objek empiris meja, misalnya, dipadankan dengan table dalam bahasa Inggris dan mesa dalam bahasa Spanyol.
Objek konkret, yang diacu tanda, tidak tercakup ke dalam definisi tanda Saussure. Sebab penanda dan petanda-sebagai dua elemen tanda merupakan gejala psikologis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Saussure menarik garis batas tegas, yang memisahkan tanda dan realitas. Di mata Saussure, bahasa -yang adalah sistem tanda -dan realitas merupakan dua hal yang berbeda meski memiliki hubungan.
Ditilik dari sudut itu, definisi Saussure tentang tanda berbeda dengan definisi tanda menu rut Charles Sanders Peirce, Peirce memiliki rumusan yang berbeda mengenai tanda. Perbedaan itu tentunya bersumber dari titik tolak yang juga berbeda, yaitu Saussure bertolak dari studi bahasa dan Peirce beranjak dari studi filsafat, khususnya pragmatisisme.
2. Model Tanda Pierce
Charles Sanders Peirce (1839 -1914) membangun definisi tanda secara triadik -Saussure secara diadik. Dikatakan triadik karena bagi Peirce penandaan melibatkan tiga unsur. Sementara Saussure mendefinisikan tanda terjadi dari penanda dan petanda, Peirce mengatakan tanda terdiri atas representamen, interpretan, dan objek.
Salah satu rumusan untuk definisi tanda yang pernah dikemukakan oleh Peirce (dalam Pharies, 1985:14) adalah sebagai berikut.
A sign ... (in the form ofa representamen) is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. It addresses somebody, that is, creates in the mind of that person an eguivalent sign, or perhaps a more developed sign. That sign which it creates I call the interpretant of the first sign. The sign stands for something, its object. It stands for that object, not in all respects, but in reference toa sort of idea, which I have sometimes called the ground of the representamen.
(Tanda ... (dalam bentuk representamen) adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu dalam kaitan atau kapasitas tertentu. Ia tertuju kepada seseorang, yakni menciptakan dalam pikiran orang itu tanda yang setara, atau mungkin tanda yang lebih terkembang. Tanda yang tercipta itu saya sebut interpretan dari tanda yang pertama. Tanda mewakili sesuatu, objeknya. Ia mewakili objek, tidak dalam semua hal, tetapi dalam merujuk pada suatu gagasan, yang sering saya sebut dasar representamen.)
Hal lain yang membedakan definisi tanda Peirce dari definisi tanda Saussure adalah dimasukkannya faktor pengguna tanda. Menurut peirce, representamen yang adalah tanda tertuju kepada pengguna tanda. Maksudnya, representamen dipersepsi oleh orang itu sebagai tanda (dapat terjadi sesuatu yang kemudian merupakan representamen itu tidak dipersepsi sebagai tanda). Karena orang itu memersepsi sesuatu sebagai representamen, terbit di dalam pikirannya interpretan. Apapun yang muncul dalam benak orang itu karena memersepsi representamen, itulah interpretan.
Bayangkan Anda sedang berkendaraan dan tiba di suatu persimpangan. Di sana tepat di depan Anda terlihat rambu-rambu lampu merah menyala. Itu sebuah objek. Nah, jika objek yang terlihat itu Anda sikapi sebagai representamen, di dalam pikiran Anda akan muncul interpretan. Tentu interpretannya adalah “berhenti' Anda menekan pedal rem.
Yang sepintas kilas mungkin membingungkan adalah membedakan objek dan representamen karena kedua duanya terkait dengan lampu merah. Sebenarnya, kalau dicermati tidak rumit. Dalam hal ini, objeknya adalah benda yang berdiri di persimpangan itu. Bagi Anda, benda itu menjadi representamen karena Anda melihatnya dan kemudian menyikapinya sebagai sebuah tanda. Namun, bagi seorang tunanetra, yang tidak diberi tahu di sana ada benda tersebut, benda itu tidak ada sehingga tidak akan menanggapinya sebagai representamen. Dengan demikian, benda itu bisa menjadi tanda, bisa juga tidak.
Definisi tanda Peirce dapat lebih dipahami dengan mengikuti uraian mengenai empat syarat formal tanda. Menurut Peirce (Liszka, 1996:18-20), agar suatu tanda atau representamen menjadi tanda, empat syarat formal berikut ini harus terpenuhi.
a. Syarat Representatif. Tanda harus berkorelasi dengan objek atau merepresentasikan objek.
b. Syarat Presentatif. Tanda harus berkorelasi atau mewakili objek itu dalam kaitan atau kapasi tas tertentu -ground nya.
c. Syarat Interpretatif Tanda harus menetapkan interpretannya, baik secara potensial maupun secara aktual. Tanda harus dapat menimbulkan tanda lain (interpretan) di dalam pikiran pengguna tanda,
d. Syarat Triadik: Relasi di antara tanda (sehubungan dengan ground nya), objek, dan interpretan harus triadik. Tanda harus merepresentasikan sesuatu dalam kaitan tertentu kepada orang tertentu.
Komentar
Posting Komentar