Analisis Wacana Kritis Fairclough
Fairclough telah mengonstruk kerangka yang penting untuk menganalisis wacana sebagai praktik sosial yang akan kita uraikan di sini secara terinci. Seperti yang kami lakukan ketika dalam menguraikan konsep Laclau dan Mouffe, di sini kami dihadapkan pada ledakan konsep, karena kerangka Fairclough berisi sederet konsep yang berbeda yang saling berkaitan satu sama lain dalam model tiga dimensi yang kompleks. Selanjutnya, makna konsep-konsep tersebut agak beragam dalam karya-karya Fairclough yang berbeda, kerangka yang senantiasa mengalami perkembangan. Dalam menyajikan teori wacana, kami mengandalkan buku-buku karya Fairclough, yakni Discourse and Social Change (1992b), Critical Discourse Analysis (1995a) dan Social Discourse (1995b) maupun Discourse in Late Modernity buku yang ditulis bekerja sama dengan Lilie Chouliaraki (Chouliaraki dan Fairclough 1999).
Perbedaan penting antara Fairclough (dan analisis wacana kritis secara umum) dan teori wacana postrukturalis adalah bahwa padé analisis wacana kritis, wacana tidak hanya dipandang bersifal konstitutif, namun juga tersusun. Pendekatan Fairclough intinya menyatakan bahwa wacana merupakan bentul penting praktik sosial yang mereproduksi dan mengubah pengetahuan, identitas dan hubungan sosial yang mencakup hubungan kekuasaan dan sekaligus dibentuk oleh struktur dan praktik sosial yang lain. Oleh sebab itu, wacana memiliki hubungan dialektik dengan dimensi-dimensi sosial yang lain. Fairclough memahami struktur sosial sebagai hubungan sosial di masyarakat secara keseluruhan dan di lembagalembaga khusus dan yang terdiri atas unsur-unsur kewacanaan dan non kewacanaan (Fairclough 1992b: 64). Praktik non kewacanaan primer misalnya adalah praktik fisik yang terlibat dalam pembangunan jembatan, sebaliknya praktikpraktik seperti jurnalisme dan hubungan masyarakat terutama bersifat kewacanaan (1992b: 66ff).
Sekaligus, Fairclough membuat jarak dengan strukturalisme dan lebih condong ke posisi yang lebih bersifat postrukturalis saat menyatakan bahwa praktik kewacanaan tidak hanya mereproduksi struktur kewacanaan yang telah ada tapi juga menantang struktur dengan menggunakan katakata untuk menggambarkan apa yang terdapat di luar struktur itu (1992b: 66). Akan tetapi, dia menyimpang cukup besar dari teori wacana postruktralis karena memusatkan perhatiannya pada upaya membangun suatu model teoretis dan piranti metodologis yang digunakan untuk penelitian empiris dalam interaksi sosial sehari-hari. Berlawanan dengan kecenderungan postrukturalis, dia menekankan pentingnya melakukan analisis sistematis bahasa tutur dan tulis misalnya pada media masa dan wawancara penelitian (Gambar 1.2).
Pendekatan Fairclough merupakan bentuk wacana analisis yang berorientasi pada teks dan yang berusaha menyatukan tiga tradisi (Fairclough 1992b: 72) yakni:
Analisis tekstual yang terinci di bidang linguistik.
Analisis makro-sosiologis praktik sosial.
Tradisi interpretatif dan mikro-sosiologis dalam sosiolog.
Pemahaman tentang wacana sebagai sesuatu yang bersifat konstitutif dan tersusun merupakan suatu unsur utama teori Fairclough. Dia menganggap hubungan antara praktik kewacanaan dan struktur sosial sebagai sesuatu yang kompleks dan beragam sepanjang waktu, dan menyimpang dari pendekatan-pendekatan analisis wacana kritis yang menganggap adanya derajad stabilitas yang tinggi.
Model Tiga Dimensi Fairclough Konsep-konsep Utama
Fairclough menerapkan konsep wacana dengan menggunakan tiga hal yang berbeda. Dalam pengertian yang paling abstrak, wacana mengacu pada penggunaan bahasa sebagai praktik sosial. Kedua, dalam penggunaan yang paling kongkret, wacana digunakan sebagai suatu kata benda yang bisa dihitung (suatu wacana, wacana tertentu, wacana-wacana, wacana-wacana tertentu) yang mengacu pada cara bertutur yang memberikan makna yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang dipetik dari perspektif tertentu. Pada pengertian terakhir ini, konsep tersebut mengacu pada wacana apapun yang bisa dibedakan dari wacana-wacana lain misalnya wacana feminis, wacana neoliberal, wacana Marxist, wacana konsumen, atau wacana environmentalis (Fairclough 1993: 138; dicetak ulang dalam Fairclough 1995a: 135). Fairclough membatasi istilah itu, yakni wacana, pada sistem semiotik seperti bahasa dan pencitraan yang berlawanan dengan Laclau dan Moufte yang memperlakukan semua praktik sosial sebagai wacana. Kami ° akan kembali membahas aspek teori Fairclough itu di akhir bab ini.
Wacana memberikan kontribusi pada pengonstruksian:
identitas. sosial;
hubungan sosial; dan
sistem pengetahuan dan makna.
Oleh karena itu, wacana mempunyai tiga fungsi: fungsi identitas, fungsi “hubungan” atau reJasional dan fungsi. “ideasional”. Di sini, Fairclough mendasarkan uraiannya pada pendekatan multifungsi pada bahasa seperti yang dikemukakan Halliday.*
Dalam analisis manapun, ada dua dimensi wacana yang sangat penting yakni:
peristiwa komunikatif misalnya penggunaan bahasa ” seperti artikel surat kabar, film, video, wawancara atau pidato politik (Fairclough 1995b) dan
tatanan wacana - konfigurasi semua jenis wacana yang digunakan dalam lembaga atau bidang sosial. Jenis-jenis wacana terdiri atas wacana dan aliran (aliran).>
Aliran adalah penggunaan khusus bahasa yang berpartisipasi dalam dan menyusun bagian praktik sosial ter tentu, misalnya aliran wawancara, aliran berita, atau aliraP iklan (1995b: 56). Contoh tatanan wacana mencakup tatanan wacana media, pelayanan keschatan, atau rumah sakit individu (1995b: 56 1998: 145). Dalam tatanan wacana, ada praktik-praktik kewacanaan khusus tempat dihasilkan dan dikonsumsi atau diinterpretasikannya teks dan pembicaraan (Fairclough 1998: 145). Misalnya, dalam tatanan wacana rumah sakit, praktik kewacanaan yang terjadi meliputi konsultasi dokter-pasien, bahasa teknis staf ilmiah (baik tulis dan tutur) dan bahasa promosi tulis dan tutur petugas humas. Dalam setiap praktik kewacanaan yakni, dalam memproduksi dan mengonsumsi jenis pembicaraan dan teks jenis-jenis wacana (wacana dan aliran) digunakan dengan cara tertentu.
Setiap peristiwa penggunaan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi:
Teks (tuturan, pencitraan visual atau gabungan ketiganya).
Praktik kewacanaan yang melibatkan pemroduksian dan pengonsumsian teks dan
Praktik sosial.
Perlu disadari bahwa analisis ciri-ciri linguistik teks tak pelak melibatkan analisis praktik kewacanaan dan sebaliknya (Fairclough 1992b: 73). Meskipun demikian, praktik kewacanaan dan teks menggambarkan dua dimensi yang berbeda pada model Fairclough dan oleh sebab itu hendaknya dipisahkan secara analitis. Analisis praktik kewacanaan dipusatkan pada bagaimana pengarang teks bergantung pada wacana dan aliran-aliran yang ada untuk menciptakan suatu teks dan bagaimana penerima teks menerapkan aliran dan wacana yang ada dalam mengonsumsi dan menginterpretas!’ kan teks. Misalnya, berita TV merupakan aliran berita yang bisa meniadakan wacana-wacana yang berbeda (misalnyé wacana kesejahteraan atau wacana neeoliberal) dan aliran-aliran (misalnya “aliran “berita utama” dan “berita ringan”). Pengenalan pemirsa tentang berita TV sebagai suatu aliran berita membentuk interpretasinya dan kemudian membahas bersama orang lain subjek yang diberitakannya. Dan para pemirsa bisa bergantung pada wacana-wacana dan aliranaliran yang digunakan, mungkin menggabungkannya dengan aliran dan wacana-wacana lain sehingga menghasilkan bentuk campuran.
Analisis teks dipusatkan pada ciri-ciri formal (seperti kosakata, tata bahasa, sintaksis dan koherensi kalimat) dan dari situlah diwujudkan wacana dan aliran secara linguistis. Hubungan antara teks dan praktik sosial diperantarai oleh praktik kewacanaan. Oleh sebab itu hanya melalui praktik kewacanaan sajalah tempat orang menggunakan bahasa untuk menghasilkan dan mengonsumsi teks teks bisa membentuk dan dibentuk oleh praktik sosial. Pada saat yang sama, teks (ciri-ciri linguistik formal) memengaruhi proses pemroduksian dan pengonstruksian (Fairclough 1992b: 71ff: 136; 1995b: 60). Aliran dan wacana tersebut diwujudkan bersama untuk menghasilkan suatu teks dan yang digunakan penerimanya untuk melaksanakan interpretasi. Ternyata dia mempunyai struktur linguistik tertentu yang membentuk pemroduksian dan pengonsumsian teks itu. Dengan demikian analisis peristiwa komunikatif meliputi:
analisis wacana dan aliran yang diwujudkan dalam pemroduksian dan pengonsumsian teks (tingkat praktik kewacanaan);
analisis struktur linguistik (tingkat teks); dan pertimbangan mengenai apakah praktik kewacanaan mereproduksi, bukannya merestrukturisasi tatanan wacana yang ada dan mengenai apa konsekuensi yang timbul bagi praktik sosial yang lebih luas (tingkat praktik sosial).
Analisis wacana tidak cukup memadai untuk menganalisis praktik sosial yang lebih luas karena analisis wacana hanya memberi tuntunan bagi unsur-unsur kewacanaan dan non kewacanaan. Selain analisis wacana, teori sosial dan kultural sangat penting. Kita akan kembali membahas ithplikasinya di akhir bab ini. Tujuan utama analisis wacana kritis adalah mengeksplorasi hubungan antara penggunaan bahasa dan praktik sosial. Fokus perhatiannya ditujukan pada peran praktik kewacanaan dalam upaya melestarikan tatanan sosial dan perubahan sosial. Penyelidikan dilakukan dengan menggunakan analisis contoh-contoh khusus penggunaan bahasa atau dengan menggunakan terminologi Fairclough, analisis peristiwa komunikatif dalam kaitannya dengan tatanan wacana. Setiap peristiwa komunikatif berfungsi sebagai bentuk praktik sosial dalam mereproduksi atau menantang tatanan wacana. Hal ini berarti bahwa peristiwa komunikatif membentuk dan dibentuk oleh praktik sosial yang lebih luas melalui hubungannya dengan tatanan wacana. Kami akan memperluas pembahasan ini pada pokok bahasan mendatang.
Tujuan umum model tiga dimensi itu adalah memberikan kerangka analitis bagi analisis wacana. Model ini didasarkan pada dan menggunakan prinsip yang berbunyi bahwa teks tidak pernah bisa dipahami atau dianalisis secara, terpisah hanya bisa dipahami. Mengenai konsep artikulasi, mereka gebagian mengandalkan pada pemahaman Laclau dan Moutfe tentang praktsk sosial scbagas produk artikulasi bersama unsur-unsur yang berbeda namun berbeda dengannya ditilik dan hakikat unsur-unsur yang diartikulasikan. bila Laclau dan Mouffe memandang praktik sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat kewacanaan, dan dengan demikian menjelaskhan semua proses artikulasi berdasarkan logika kewacanaan, Chouliaraki dan Fairclough membedakan antara momen-momen kewacanaan dan non kewacanaan praktik sosial dan mengusulkan bahwa momen-momen itu hendaknya mematuhs jenis-jenis logika yang berbeda, agar bisa mengonseptualisasikan logika-lokiga yang berbeda itu, mereka menggunakan realisme kritis (misalnya, Bhaskar 1986, Collier 1994) terutama teori yang menyatakan bahwa kehidupan social beroperasi menurut sederet mekanisme yang masing-masing memiliki “efek generatif’nya sendiri yang berbeda terhadap peristiwa-peristiwa, tapi yang selilu diperantarat satu sama lain untuk menghasilkan peristiwa itu (Chouliaraki dan Fairclough 1999 19) Untuk mengonsep mekanismemekanisme ditihk dari momen-momen praktik sosial, dan mereka menggunakan teoretisas: momen-momen sebagai unsur-unsur yang “menginternalisasi” tapi tidak bisa diteduksi satu sama lain
Bila dibandingkan dengan model tiga dimensi di atas, konseptualisasi baru itu bisa memberikan pedoman yang lebih bagus untuk menganalisis apa yang disebut praktik kewacanaan dan praktik sosial dalam model tiga dimensi, karena spesifikasi momen-momen kewacanaan dan non dss praktik sosial yang dikaji itu bisa memberikan petunjuk mengena} jenis teori yang sesuai untuk menganalisis jenis-jenis logika yang berbeda. Meskipun demikian, dalam kaitannya dengan implikasinya bagi penelitian empiris, kami tidak mengarggap pemahaman baru itu berbeda dengan model tiga dimensi,’ dan kami memiliki model tiga dimensi tersebut untuk menggambarkan kerangka dasar Fairclough untuk analisis wacana berdasarkan anggapan bahwa model itu menggambarkan hubungan teks dan konteks dengan cara yang sangat pedagogis. Selain itu, pandangan kami adalah bahwa konsepsi baru itu memiliki kelemahan yang sama seperti yang dimiliki oleh model tiga dimensi: bagaimana dalam menganalisis dan memperhitungkan hubungan dialektik antara momenmomen kewacanaan dan nonkewacanaan yang berbeda dalam suatu praktik sosial bisa dianggap tidak jelas seperti dalam menyelidiki hubungan dialektik antara praktik kewacanaan dan nonkewacanaan. Kami kembali membahas persoalan ini dalam menyimpulkan komentar-komentar kritis pendekatan itu.
Tatanan Wacana dan Peristiwa Komunikatif
Fairclough memahami hubungan antara peristiwa komunikatif dan tatanan wacana sebagai hubungan yang bersifat dialektikal. Tatanan wacana merupakan suatu sistem, namun bukan sistem dalam pengertian strukturalis. Yakni, peristiwa-peristiwa komunikatif tidak hanya mereproduksi tatanan wacana, tapi juga bisa memperluasnya melalui penggunaan bahasa yang kreatif. Tatanan wacana merupakan jumlah seluruh aliran dan wacana yang digunakan dalam domain sosial khusus, Pertama, tatanan wacana merupakan suatu sistem dalam artian sistem itu membentuk dan dibentuk oleh peristiwa khusus penggunaan bahasa. Dengan begitu sistem tersebut merupakan struktur sekaligus praktik. Penggunaan wacana dan aliran sebagai sumber daya dalam komunikasi dikendalikan oleh tatanan wacana karena tatanan wacana menyusun sumber daya (wacana dan aliran) yang ada. Tatanan wacana membatasi apa yang bisa dikatakan. Tapi pada saat yang sama pengguna bahasa bisa mengubah tatanan wacana dengan menggunakan wacana dan aliran dengan cara yang baru atau dengan mengimpor wacana dan aliran dari tatanan wacana lain. Tatanan wacana terutama terbuka bagi perubahan bila wacana dan aliran yang berasal dari tatanan wacana lain juga ikut bermain di situ.
Misalnya, aliran dan wacana tertentu merupakan karakteristik praktik kewacanaan yang berbeda yang telah menyusun tatanan wacana layanan kesehatan di Inggris. Wacana kesejahteraan telah sangat dominan, namun sejak awal tahun 1980an, wacana kesejahteraan telah harus berjuang melawan wacana-wacana lain, termasuk wacana konsumen neoliberal, yang sebelumnya hanya berkaitan dengan tatanan wacana pasar saja. Sekarang ini banyak petugas humas menggunakan wacana yang sekiranya mempromosikan layanan perawatan kesehatan seolah layanan kesehatan itu barang dagangan yang sangat menarik bagi para pasien sebagai konsumen bukannya sebagai sesama warga Negara. Kondisi semacam ini bisa dipandang sebagai refleksi dan daya dorong perubahan pada praktik social yang lebih luas oleh fairclough dipandang dari sisi pemasaran wacana. Suatu perkembangan kemasyarakan pada modeernitas akhir, dimana wacana pasar menjajah praktik kewacanaan lembaga-lembaga public (Fairclough, 1992, 1993, 1998).
Bagaimanakah hubungan antara tatanan wacana dan konteks sosialnya? Dalam karya awalnya, Fairclough cenderung menghubungkan tatanan wacana dengan lembaga-lembaga khusus (seperti dalam tatanan wacana Universitas, Media, dan sebagainya). Menurut Fairclough (1995) menekankan bahwa wacana dan tatanan wacana bisa bekerja lintas batas kelembagaan. Dalam bukunya yang ditulisnya bersama Couliaraki, konsep tatanan wacana dipasangkan dengan konsep bidang pierre Bourdieu. Dengan kata lain bagi Bourdieu suatu bidang merupakan domain social yang relative otonom yang mematuhi logika social khusus. Para aktor dalam suatu bidang khusus, seperti bidang olahraga, politik, atau media bertujuan untuk mencapai tujuan yang sama, dan dengan demikian bidang-bidang itu berhubungan satu sama lain dengan cara yang saling bersaing dimana aktor individu yang berada di bidang itu ditetapkan oleh jarak relatifnya dari tujuan itu. Misalnya, dalam bidang politik politisi dan partai politik yang berbeda berjuang mendapatkan kekuasaan dan kekuatan relatif mereka didistribusikan melintasi bidang itu, Bagi Bourdieu, masyarakat terdiri atas sederet bidang yang diatur oleh “bidang kekuasaan” yang jauh daya jangkauan. nya dan saling terhubungan dalam jaringan hubungan yang kompleks.
Chouliaraki dan Fairclough (1999: 114) menyatakan bahwa kita memandang tatanan wacana sebagai aspek kewacanaan suatu bidang. Mereka mengkritik Bourdieu karena dianggap kurang melakukan teoretisasi dan meremehkan peran wacana dalam perjuangan dalam dan antara bidang, dan mereka menawarkan analisis wacana sebagai pelengkap penting teori Bourdieu (Chouliaraki dan Fairclough, 1999: 104ff). Namun mercka menyatakan bahwa Bourdieu bisa memberi suatu teori kepada analisis wacana kritis yang bisa mencengkeram tatanan wacana dalam suatu tatanan praktik sosial, suatu gabungan momen-momen kewacanaan dan non kewacanaan. Tatanan wacana direkonseptualisasikan sebagai konfigurasi wacana yang berpotensi menimbulkan konflik di bidang sosial tertentu dan rekonseptualisasi semacam im mempertajam konsep tersebut sebayai piranti analitis. Secara umum, impor teori Bourdieu ke dalam analisis wacana kritis membuka pintu penyelidikan wacana kritis hubunganhubungan di dalam dan antara bidang-bidang yang berbeda.
Antartekstualitas dan Antarkewacanaan
Antarkewacanaan terjadi bila aliran dan wacana yang berbeda diartikulasikan bersama-sama dalam suatu peristiwa komunikatif. Melalui artikulasi wacana baru, batas-batasnya berubah, baik di dalam tatanan wacana Mmatpun antara tatanan wacana yang berbeda. Praktik kewacanaan kreatif tempat digabungkannya jenis-jenis wacana dengan cara yang baru dan kompleks dalam “campuran antarkewacanaan” baru merupakan suatu tanda dan daya dorong ke arah perubahan kewacanaan dan juga perubahan sosio-kultural. Di sisi lain, praktik-praktik kewacanaan tempat bercampurnya wacana dengan cara-cara konvensional merupakan indikasi dan bekerjanya stabilitas tatanan wacana yang dominan dan dengan demikian juga tatanan sosial yang dominan. Reproduksi kewacanaan dan perubahan dengan demikian bisa diselidiki melalui analisis hubungan antara wacana-wacana yang berbeda dalam suatu tatanan wacana dan antara tatanan-tatanan wacana yang berbeda (Fairclough 1995b: 56).
Antarkewacanaan merupakan bentuk antartekstualitas. Antar tekstualitas mengacu pada kondisi tempat bergantungnya peristiwa komunikatif pada peristiwa-peristiwa terdahulu. Kita tidak bisa menghindarkan diri dari penggunaan kata-kata dan frase-frase yang sebelumnya telah digunakan orang lain. Bentuk antartekstualitas yang terutama telah diucapkan sebelumnya adalah antar tekstualitas yang menjelma (manifest antar tekstualitas), sebaliknya teks secara jelas bergantung pada teks-teks lain, umpama saja dengan mengutip-nya (Fairclough 1992c: 117).
Suatu teks bisa dipandang sebagai hubungan dalam rantat intertekstual (Fairclough 1995b: 77f). Serangkaian teks tempat masing-masing teks memasukkan unsur-unsur yang berasal dari teks atau teks-teks lain. Contohnya adalah rantai intertekstualitas yang mengikat laporan ilmiah ke teks media dan ke pembicaraan dan teks khalayak: wartawan memasukkan unsur-unsur ilmiah dalam pemroduksian teks media dan dalam proses konsumsi, penerima memasukkan unsur-unsuy dari teks media dalam mengonstruk suatu teks baru.
Antarkewacanaan mengacu pada pengaruh sejarah terhadap suatu teks dan pada pengaruh teks terhadap sejarah, maksudnya teks bergantung pada teks-teks terdahulu dan dengan begitu memberikan kontribusi bagi perubahan dan perkembangan sejarah (Kristeva 1986: 39; dikutip dalam Fairclough 1992b: 102). Bila sebagian postrukturalis (misalnya Fiske 1987) memandang antartekstualitas dan antarkewacanaan sebagai suatu pengejawantahan stabilitas dan daya ubah ekstrem bahasa, Fairclough mamandangnya sebagai tanda stabilitas dan ketidakstabilan, kontinuitas dan perubahan. Perubahan diciptakan dengan mengandalkan wacanawacana yang ada dengan cara baru, namun kemungkinan terjadinya perubahan itu dibatasi oleh hubungan kekuasaan yang di antaranya menentukan akses aktor-aktor yang berbeda pada wacana-wacana yang berbeda (simak pembahasan kami tentang hegemoni dalam pokok bahasan di halaman 75-76).
Kemungkinan kreativitas yang tampaknya tak terbatas daiam praktik kewacanaan yang dinyatakan oleh konsep antarkewacanaan kombinasi dan kombinasi ulang aliran dan wacana yang tiada akhir -dalam praktik terbatas dan dibatasi oleh kondisi hubungan dan perjuangan hegemonis.
Hubungan kewacanaan merupakan tempat terjadinya konflik dan perjuangan sosial:
Tatanan wacana bisa dipandang sebagai satu domain hegemoni kultural yang potensial, dengan kelompok-kelompok dominan yang berjuang menyuarakan dan mempertahankan tatanan tertentu pada diri dan di antara mereka. (Fairclough 1995b: 56).
Bahwa suatu masyarakat itu tidak dikendalikan oleh satu wacana yang dominan tidaklah berarti bahwa semua wacana itu sepadan. Misalnya, jelas bahwa sebagian wacana memiliki dampak yang lebih kuat terhadap media massa dhbandingkan wacana yang lain. Wacana akademis mumi lebih sulit dimasukkan ke dalam media massa dibandingkan wacana campuran yang menggabungkan wacana akademis (dari tatanan wacana universitas) dan wacana populer (dari tatanan wacana kehidupan sehari-hari). Agar bisa memahami hubungan kekuasaan antara wacana-wacana yang berbeda dan konsekuensi-konsekuensinya, sekarang kita beralih ke pembahasan tentang konsepsi ideologi dan hegemoni yang dikemukakan Fairclough.
Wacana Ideologi dan Hegemoni
Ideologi, bagi Fairclough, merupakan “makna yang melayani kekuasaan” (Fairclough 1995b: 14). Lebih tepatnya, dia memahami ideologi sebagai pengonstruksian makna yang memberikan kontribusi bagi pemroduksian, pereproduksian dan transformasi hubungan-hubungan dominasi (Fairclough 1992b: 87; cf. Chouliaraki dan Fairclough 1999: 26f). Ideologi tercipta dalam masyarakat-masyarakat. Di sinilah hubungan dominasi didasarkan pada struktur sosial seperti kelas dan gender. Menurut definisi Fairclough, wacana bisa kurang lebih bersifat ideologis, wacana ideologis yang memberikan kontribusi bagi usaha untuk mempertahankan dan mentransformasikan hubungan-hubungan kekuasaan.
Pandangan kami adalah bahwa ada persoalan dalam meng. Operasionalisasikan definisi ini. Pertanyaannya adalah apakah ada wacana yang tidak memiliki konsekuensi bagi kekuasaan hubungan dominasi dalam masyarakat. Sulit membedakan antara apa yang merupakan dan bukan merupakan ideology.
Pemahaman wacana tentang ideologi sebagaimana yang disisipkan dalam praktik kewacanaan bergantung pada pandangan Thompson yang menyatakan ideologi sebagaj praktik yang beroperasi dalam proses pemroduksian makna dalam kehidupan sehari-hari, sebaliknya makna dimobilisasikan agar bisa mempertahankan hubungan-hubungan kekuasaan (Thompson 1990). Fokus ini bertentangan dengan konsepsi ideologi di banyak pendekatan Marxist. Banyak Marxist tidak tertarik pada struktur ideologi-ideologi tertentu, atau pada bagaimana ideologi diartikulasikan dalam kontekskonteks sosial khusus. Namun mereka telah memperlakukan ideologi sebagai sistem nilai abstrak yang berfungsi sebagai verekat sosial, yakni mengikat orang-orang secara bersamasama dan dengan demikian mengukuhkan keruntutan tatanan sosial.
Selaras dengan Thompson dan banyak teoretisi kultural dan sosial lain yang telah merumuskan pendekatan-pendekatan pada praktik ideologis, Fairclough menggunakan karya Althuser dan juga dalam derajad tertentu karya Gramsci. Seperti yang disebutkan pada Bab 1, kedua teoretisi itu menggambarkan hentuk-bentuk penting perspektif Marxist cultural dan keduanya menganggap pemroduksian makna dalam kehidupan sehari-hari itu memiliki peran penting dalam mempertahankan tatanan sosial. Fairclough juga mematuhi konsensus yang dibuat dalam kajian-kajian kultural kritis dengan menolak bagian-bagian teori Althuer dengan dalih bahwa Althuser menganggap orang sebagai subjek ideologis pasif dan dengan demikian meremehkan kemungkinan mereka untuk melakukan tindakan. Dalam kajian kultural dan komunikasi, sekarang ini ada konsensus bahwa makna teks sebagian diciptakan dalam proses interpretasi. Fairclough memiliki posisi konsesus yang sama. Teks mempunyai beberapa potensi makna yang mungkin bertentangan satu sama lain dan terbuka bagi beberapa interpretasi yang berbeda.
Ada kemungkinan timbul penolakan kendati orangorang tidak harus sadar akan dimensi ideologis praktiknya:
Subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek juga mampu bertindak secara kreatif untuk menciptakan hubungan antara praktik-praktik dan ideologi-ideologi yang beragam tempat dipajankannya subjek tersebut dan menata kembali posisi praktik dan struktur itu. (Fairclough 1992b: 91).
Fairclough juga menolak pemahaman Althuser tentang ideologi sebagai keseluruhan entitas. Fairclough percaya bahwa orang-orang bisa diposisikan dalam ideologi-ideologi yang berbeda dan saling bersaing dan bahwa kondisi semacam ini bisa menggiring ke arah rasa ketidakpastian, yang efeknya bisa menciptakan kesadaran akan efek ideologis (Fairclough 1992b). Sudut pandang ini didasarkan pada gagasan Gramsci bahwa “akal sehat” berisi beberapa unsur yang saling bersaing yang merupakan hasil negosiasi makna tempat berpartisipasinya semua kelompok sosial (Gramsci 1991). Hegemoni tidak hanya merupakan dominasi namun juga proses negosiasi yang melahirkan konsensus tentang makna. Keberadaan unsur-unsur yang saling bersaing seperti itu menaburkan benih-benih perlawanan karena unsuy, unsur yang menantang makna dominan membekali orang, orang dengan sumberdaya untuk melakukan perlawanan, Akibatnya, hegemoni tidak pernah stabil namun senantiasa berubah dan tidak selesai dan konsensus selalu berkaitay dengan masalah derajad - “keseimbangan yang saling bertentangan dan tidak stabil” (Fairclough 1992b: 93).
Menurut Fairclough, konsep hegemoni memberi kita alat yang bisa kita gunakan untuk menganalisis bagaimana prakik kewacanaan menjadi bagian dari praktik sosial yang luas yang melibatkan hubungan kekuasaan: praktik kewacanaan bisa dipandang sebagai aspek perjuangan hege. monis yang memberikan kontribusi bagi reproduksi dan transformasi tatanan wacana yang merupakan bagiannya (dan akibatnya juga hubungan kekuasaan yang ada). Makna kewacanaan terjadi bila unsur-unsur kewacanaan diartikulasikan dengan cara-cara baru.
Metode dan Desain Penelitian
Sekarang kami akan menguraikan metode-metode penelitian yang dikemukakan Fairclough yang memperlakukan analisis wacana sebagai teks, praktik kewacanaan dan praktk sosial. Kita tidak harus menggunakan semua metode atav menggunakannya dengan cara yang persis sama pada proyek proyek penelitian khusus. Penyeleksian dan penerapat piranti-piranti tergantung pada pertanyaan penelitian dat lingkup proyek penelitian. Bagi mayoritas pendekatat analisis wacana (termasuk yang dikemukakan dalam buku jni) dan bagi penelitian kualitatif secara umum - tidak ada prosedur tetap yang digunakan untuk memproduksi materi atau analisis: desain penelitian hendaknya disesuaikan agar cocok dengan karakteristik khusus proyek tersebut.
Dalam uraian kami mengenai langkah-langkah dan piranti metodologis, kami terutama pada Bab 8 buku Discourse and Social Change karya Fairclough (1992b) mengetengahkan daftar periksa semua fase, konsep, dan piranti analitis yang diperkenalkan di awal buku ini. Kami tidak bisa mencakup semua aspek yang berbeda kerangka itu, karena itu sebelum melakukan analisis wacana kritis, sebaiknya lihat dulu Bab 8 dan teks lain tulisan Fairclough sebagai tambahan uraian kami di sini.
Pemilihan Masalah Penelitian
Dari namanya, analisis wacana kritis dimaksudkan untuk menghasilkan penelitian sosial kritis, yakni penelitian yang memberikan kontribusi bagi koreksi atas ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang terjadi dalam masyarakat, Chouliaraki dan Fairclough mendefinisikan tujuan analisis wacana kritis sebagai kritik eksplanatoris, dengan mengambil konsep Roy Bhaskar (Bhaskar 1986, dalam Chouliaraki dan Fairclough 1999: 33; Fairclough 2001: 235-236). Kritik eksplanatoris berawal dari permasalahan yang penyelesaiannya hendaknya dibantu oleh penelitian. Mengenai identifikasi masalah penelitian ini, desain penelitian yang utuh digunakan untuk menganalisis dimensi sosial kewacanaan dan dimensi sosial lain masalah penelitian dan tantangan yang ada mungkin adalah mencari penyelesaiannya.
Rumusan Pertanyaan Penelitian
Kerangka tiga dimensi wacana menata semua komponen desain penelitian termasuk rumusan pertanyaan penelitian. Prinsip utamanya adalah bahwa praktik kewacanaan memiliki hubungan dialektik dengan praktik sosial lain: wacana disisipkan secara sosial. Sifat khusus suatu praktik kewacanaan tergantung pada praktik sosial yang merupakan bagiannya. Karena alasan inilah kami memulai pembahasan ini dengan menelaah praktik sosial ketika merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian. Agar bisa mengemukakan praktik sosial dan merumuskan pertanyaan penelitian, perlu digunakan disiplin ilmu atau disiplin-disiplin ilmu yang mengkaji praktik sosial yang menarik. Disiplin ilmu itu misalnya bisa sosiologi, psikologi sosial, ilmu politik atau sejarah. Berdasarkan pada analisis wacana secara bersama-sama, kita melaksanakan analisis hubungan interdisipliner antara praktik kewacanaan dan praktik sosial. Salah satu tujuan utamanya adalah memperlihatkan hubungan antara praktik kewacanaan dengan struktur dan perkembangan sosial dan budaya yang lebih luas. Premis dasar yang digunakan adalah bahwa praktik kewacanaan mencerminkan dan secara aktif memberikan kontribusi kepada perubahan sosial dan budaya.
Pilihan Materi
Pilihan materi penelitian tergantung pada beberapa aspek: pertanyaan penelitian, pengetahuan peneliti tentang materi yang relevan dalam domian sosial atau lembaga yang ingin diteliti dan apakah, dan bagaimana kita bisa mendapatkan akses ke situ.
Transkripsi
Transkripsi tak pelak merupakan teori karena prosesnya melibatkan interpretasi bahasa tutur (Fairclough 1992b). Sebagai contoh, marilah kita membayangkan bahwa ada tiga orang yang sedang bercakap-cakap dan salah satu darinya men. dominasi pembicaraan karena menghabiskan 80 proses wakty pembicaraan. Sebagaimana yang dikemukakan Fairclough, kita bisa mengatakannya sebagai “percakapan” karena setiap orang mendapatkan giliran bercakap-cakap atau sebagai “monolog” meski ada interupsi dan intervensi dari penutur yang lain. Jika ada tumpang tindih antara para penutur, analis harus memutuskan siapa menginterupsi siapa dan jika ada kebisuan dalam rekaman, dia perlu diputuskan kebisuan itu asalnya dari penutur mana (1992: 299f).
Analis wacana harus memilih di antara sistem transkripsi; dan tidak ada sistem yang mampu memperlihatkan segalanya. Dia perlu mempertimbangkan apa yang diperlukan ditilik dari pertanyaan-pertanyaan penelitiannya. Jelas bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah melaksanakan analisis mikrolinguistik yang terinci, karena itu perlu digunakan sistem transkripsi yang agar terinci seperti misalnya sistem yang diusulkan Gail Jefferson (misalnya digunakan sebagai sistem transkriptis standar dalam pengantar analisis wacana yang diedit oleh van Dijk, 1997b). Namun jika rencananya adalah melakukan analisis tekstual yang tidak begitu terinc) sekiranya cukup dipakai sistem yang memperlihatkan jeda masa sunyi dan tumpang tindih antara penutur-penutur ” misalnya, versi lebih sederhana sistem Gail Jefferson yang sering digunakan dalam psikologi kewacanaan (simak misalnya Potter dan Wetherell 1987; Wetherell dan Pottet 1992).
Analisis
Dalam model tiga dimensinya, Fairclough membedakan antara praktik kewacanaan, teks dan praktik sosial sebagai tiga tataran yang bisa dipisahkan secara analitis. Dalam pokok bahasan ini, kami akan mengemukakan apa yang seharusnya dicari analis wacana pada masing-masing tiga tataran itu, dengan menggunakan. contoh dari iklan lowongan pekerjaan yang diperlihatkan di atas. Kami memperlakukan masing-masing tataran secara bergantian dengan alasan pedagogis bukannya menyajikan analisis gabungan semua tiga tataran seperti yang biasa diuraikan dalam penelitian. Perlu dicatat bahwa Fairclough menganalisis iklan Sheffiled secara lebih mendalam dibandingkan analisis iklan Newscastlenya.
Praktik Kewacanaan
Analisis praktik kewacanaan dipusatkan pada bagaimana teks diproduksi dan dikonsumsi. Ada beberapa cara mendekatinya. Jika materi empirisnya adalah artikel surat kabar, misalnya, peneliti bisa menyelidiki kondisi pemroduksian surat kabar: jenis proses apakah yang dilalui suatu teks Sebelum dicetak, dan perubahan-perubahan apa yang dialaminya selama proses itu? Mungkin dia bisa melacak jalinan aitartekstual teks tempat teks yang sama bisa dipandang dalam Sederet versi. Sewaktu menganalisis rantai intertekstual, kita bisa melihat bagaimana struktur dan isinya ditransfor. masikan dan bisa mulai merumuskan hipotesis mengenai jenis kondisi pemroduksian yang menghasilkan versi-versi yang berbeda (Fairclough 1995b: 77ff). Pada titik ujung pengon sumsian, dilakukan penelitian terhadap khalayak pembacanya untuk mengetahui bagaimana pembaca menginterpretasikan teks-teks yang dihasilkan itu. Sayangnya, belum ada analis wacana kritis yang melakukan pekerjaan itu." Di kebanyakan analisisnya, Fairclough secara sosiologis tidak menyelidikj cara-cara diproduksi atau dikodekannya teks-teks. Yang sering terjadi adalah Fairclough mengambil titik awaj linguistik pada teks-teks kongkret, dengan mengidentifikasj wacana-wacana apa yang mereka gunakan (antarkewacanaan) dan bagaimana wacana itu secara antartekstual menggunakan teks-teks lain.
Contoh
Iklan lowongan pekerjaan Sheffield berisi derajad antarkewacanaan yang tinggi. Wacana-wacana promosi yang berbeda diartikulasikan bersama wacana tradisional untuk menghasilkan campuran interkewacanaan yang kompleks. Satu wacana promosi adalah wacana “iklan komoditas’. Misalnya wacana ini dimuat dalam topik utama “Memberikan Dampak Yang Luas Pada Generasi Mendatang” dan dalam personifikasi lembaga dan pembaca (yang dipanggil “anda’ dan “kita”). Dengan menggunakan personifikasi, iklat tersebut juga mendorong lahirnya wacana percakapan.
Juga ada unsur-unsur yang berasal dari wacana “iklat korporat” yang jelas dalam frase-frase seperti “dengan reputed kami” dan dalam logo. Selain itu, iklan tersebut menggunaka! aliran naratif ketika membicarakan dampak lembagany? terhadap generasi mendatang (“Dengan reputasi kami sebaga! salah satu pusat utama inovasi penelitian dan keunggulan pengajaran di kerajaan Inggris, kami memberikan dampak yang besar terhadap generasi mendatang para pemimpin bisnis dan inovator di bidang rekayasa”).
Unsur-unsur lain yang terdapat dalam campuran antarkewacanaan adalah wacana kualitas pribadi (misalnya: dengan ambisi, energi dan keahlian anda”) dan wacana manajemen (inovasi penelitian dan keunggulan pengajaran”; ‘keahlian; ‘prakarsa penelitian’). Sekaligus, teks tersebut mengandalkan wacana pendidikan tradisional dan unsurunsur yang lazim ada pada universitas dan iklan kelembagaan yang sama seperti “formulir pendaftaran dan informasi lebih lanjut hubungi alamat di bawah ini.”
Sebaliknya, iklan Newcastle University memiliki derajad antarkewacanaan yang rendah. Tentang antartekstualitas, teksnya mengandalkan wacana akademis tradisional dalam Setiap pernyataannya, dengan mengemukakan wacana tersebut menggunakan cara-cara konvensional.
Menurut teori wacana, tingkat antarkewacanaan yang tinggi ada hubungannya dengan perubahan, sementara tingkat antarkewacanaan yang rendah menandakan reproduksi tatanan yang telah mapan. Pada tahap analisis itu, secara tentatif kami menyimpulkan bahwa iklan Sheffield merupakan pengejawantahan perubahan kemasyarakatan yang lebih luas, sementara iklan Newscastle ditujukan untuk mempertahankan tatanan wacana tradisional di universitas universitas yang mapan.
Teks
Dengan melakukan analisis terinci karakteristik linguistik suatu teks dengan menggunakan piranti khusus, ada kemungkinan bisa menjelaskan bagaimana wacana diaktifkan secara tekstual dan membuat kesimpulan serta mem, berikan dukungan bagi interpretasi tertentu.
Fairclough mengusulkan sejumlah piranti bagi analisis teks. Mereka yang memiliki latar belakang linguistik mungkin mengenal istilah-istilah berikut:
Kendali interaksional hubungan antara penutur-penutur, termasuk pertanyaan tentang siapa yang menetapkan agenda percakapan (Fairclough 1992b: 152ft,);
Etos bagaimana identitas dikonstruk melalui bahasa dan aspek-aspek tubuh (1992b: 166ff);
Metafora (1992b: 194ff);
Kata (1992b: 190)? dan
Tata bahasa (1992b; 158ff., 169ff)
Semua istilah tersebut memberikan wawasan mengenal cara-cara teks memperlakukan peristiwa dan hubungan sosial dan juga mengonstruk versi realitas tertentu, identitas sosial, dan hubungan sosial.
Sekarang kami akan menyoroti secara lebih terinci dua unsur gramatikal penting yakni transitivitas dan modalitas.” Ketika menganalisis transitivitas fokusnya ditujukan pada bagaimana peristiwa-peristiwa dan proses-proses dikaitkan (tidak dikaitkan) dengan subjek dan objek. Tujuannya adalah menyelidiki konsekuensi ideologis yang dimiliki oleh bentukbentuk yang berbeda. Pada kalimat “Sebanyak 50 orang perawat dipecat kemarin”, digunakan bentuk pasif dan akibatnya pelakunya ditiadakan. Pemecatan perawat tersebut dikemukakan sebagai semacam fenomena alam - sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa ada pelaku yang bertanggung jawab (seperti administrator rumah sakit). Struktur kalimatnya membebaskan pelaku pemecatan dari tanggung jawab dengan cara menekankan efeknya dan tidak mempedulikan tindakan dan proses yang menyebabkan pemécatan itu. Ciri linguistik Jain yang mengurangi agensi dan menekankan efeknya adalah nominalisasi. Kata benda berarti menunjukkan proses (misalnya “terdapat banyak pemecatan di rumah sakit itu”).
Analisis modalitas memusatkan perhatian pada derajad kelekatan penutur dengan atau afiliasi pada pernyataannya. Pernyataan “udaranya dingin sekali”, “ menurutku udaranya dingin sekali” dan “mungkin agak dingin” merupakan caracara yang berbeda dalam mengungkapkan sesuatu. Cara tersebut menggambarkan modalitas-modalitas yang berbeda yang digunakan penutur bersikap melalui pemyataan-pernyataannya yang memiliki derajad yang beragam. Modalitas yang dipilih mempunyai konsekuensi-konsekuensi dalam pengonstruksian kewacanaan hubungan sosial dan sistem makna serta pengetahuan.
Satu jenis modalitas adalah kebenaran. Penutur sepenuhnya memiliki komitmen terhadap pernyataan yang dibuatnya. Misalnya, pertanyaan itu berbunyi “Pengerasan arteri bisa menyerang pembuluh arteri di hampir seluruh tubuh”,” menyajikan pernyataan pengetahuan sebagai sesuatu yang benar dan tidak bisa dibantah sebaliknya pernyataan “Pengerasan arteri bisa menyerang pembuluh arteri di hampir Seluruh tubuh” mengekspresikan derajad kepastian yang lebih rendah. Contoh modalitas yang mengonstruk hubungan sosial dengan cara tertentu adalah ijin. Penutur menempatkan dirinya dalam suatu posisi di mana dia bisa memberi penerima izin untuk melakukan sesuatu: “Beberapa minggu setelah anda merintis pekerjaan itu, anda bisa santai. Anda bisa berolah raga, bermain seks, melahirkan, dan bekerja”."* Modalitas juga bisa diungkapkan dengan intonasi (misalnya nada ragy bisa mengekspresikan jarak dari pernyataan) atau dengan kata-kata penghindaran (hedge). Penutur melakukan penghindaran ketika dia melunakkan pernyataan suatu kalimat dan dengan demikian mengungkapkan afinitas yang rendah, misalnya dengan menggunakan kata “yah”, “sedikit", seperti dalam pernyataan ” perkembangan medisnya tidak bagus - yah, mungkin sedikit kurang bagus”.
Wacana yang berbeda menggunakan bentuk modialitas yang berbeda (Fairclough 1992b: 160ff). misalnya, media amasa sering memberikan interpretasi seolah interpretasi itu fakta, sebagian dengan menggunakan modialitas kategoris dan dengan memiliki modalitas yang objektif bukannya subjektif (misalnya dengan mengatakan “Berbahaya” bukannya “Saya rasa berbahaya”). Penggunaan modalitas kategoris yang objektif oleh media mencerminkan dan memperkuat otoritasnya.
Contoh: Agar bisa menganalisis tentang pengonstruksia® jdentitas dan hubungan sosial dalam iklan lowongan pekerjaan, Fairclough menyelidiki bagaimana iklan-iklan tersebu! mengonstruk representasi pembaca dan lembaga itu senditl seperti ekspresi antarkewacanaan iklan Sheffield, teksnya berisi makna-makna interpersonal yang bertentangan, yang selaras dengan wacana-wacana yang berbeda yang di artikulasikan. Yang dominan di sini adalah wacana-wacana promosi, dan akibatnya juga pengonstruksian identitasnya. Lembaga dicoraki oleh misalnya nominaiisasi, “inovasi penelitian dan keunggulan pengajaran”; “keahlian”, “prakarsa penelitian”. Lembaga dipersofinikasikan, suatu identitas tertentu yang dipromosikan melalui nominalisasi-nominalisasi tersebut. Sekaligus, iklan tersebut secara aktif mengonstruk identitas profesional bagi pelamarnya karena pelamar yang berhasil harus memiliki sederet kualitas pribadi misalnya “dengan ambisi, energi dan keahlian anda, anda akan mencurahkan perhatian pada kegiatan mengajar anda”. Dengan cara seperti ini, lembaga tersebut menyatakan otoritasnya atas identitasnya sendiri dan identitas pelamarnya (“kami” dan “anda”) dan hal semacam ini berlaku terhadap kualitas pribadi maupun prosedur pelamaran dan kondisi kerja. Sekarang perhatikan bagaimana personifikasi lembaga dan pembaca secara bersama-sama mendorong timbulnya percakapan yang memberikan kontribusi pada terciptanya hubungan pribadi dan jelas setara antara keduanya. Banyak klausa yang memiliki kata kerja modal “akan” (will) (misalnya “anda idealnya akan (will) memiliki pengalaman yang berkaitan dengan industri”), yang menanda"kan masa depan dan mewujudkan modialitas afinitas yang tinggi, namun tidak ada analisis wacana modalitas kewajiban yang jelas seperti “anda hendaknya memiliki pengalaman yang berkaitan dengan industri” Kalimat-kalimat dengan jenis seperti ini “untuk jabatan (...) anda idealnya akan me, miliki pengalaman yang berkaitan dengan industri” (huruf miring kami tambahkan) menetapkan keharusan dan mem-* buka alternatif-alternatif baru. Ciri semacam ini juga mendorong lahirnya hubungan setara yang dipersonmiixas) antar lembaga dan pelamar. Berlawanan dengan iklan Sheffield Polytechnic, suara kelembagaan di iklan Newcastle sifatnya impersonal, konservatif dan menjaga jarak. Analisis menunjukkan bahwa dj iklan itu dilakukan reproduksi struktur tradisional iklan untuk jabatan akademis: judul yang mengidentifikasi lem. baga; judul utama yang mengacu posisi; informasi tentang posisi, gaji dan prosedur pengajuan lamaran. Lembaga tersebut menyatakan otoritasnya atas kondisi pekerjaan dan prosedur pengajuan lamaran melalui klausa subordinat indikatif yang memiliki modalitas afinitas tinggi seperti “pos itu tersedia” dan “gajinya akan”. Namun lembaga tersebut tidak menyatakan otoritas atas identitas pembaca dan dengan begitu tidak ada usaha untuk menciptakan identitas profesional khusus bagi pelamar.
Dalam kaitannya dengan transitivitas, ada dua unsur dalam iklan Newcastle yang memberikan kontribusi kepada penciptaan hubungan impersonal antara universitas itu dengan pelamarnya: kala pasif dan nominalisasi. “Para pelamar diminta mengirim lamaran ke petugas bagian pengajaran (Bukannya “Kami mengundang anda mengirimkan lamaran ke bagian pengajaran). Kami mendapati adanya kata kerja pasif tanpa pelaku (agen). Begitu pula lembagany? secara eksplisit tidak disebutkan. Nominalisasi “lamaran”’ juga tidak memiliki pelaku (agent) dan hal ini berarti calo" pelamar juga tidak ada. Pemilihan kata sifatnya dibuat formal dan agak kuno, sehingga memberikan kontribusi pada identitas kelembagaan yang berjarak dan impersonal yang merupakan sesuatu yang khas ada pada wacana universitas.
Dalam analisis dimensi teks, jelas dinyatakan bahwa teks menggambarkan dua wacana yang berbeda, yang masingmasing memiliki ciri linguistik tersendiri yang mengonstruk hubungan-hubungan sosial antara lembaga dan pelamar dengan cara yang berbeda. Iklan Sheffield secara aktif mengonstruk identitas-identitas tertentu bagi lembaga dan pelamar dan secara bersama-sama menyiratkan bahwa kedua belah pihak memiliki hubungan pribadi dan setara dan keduanya bisa berbincang-bincang tentang segala hal. Sebaliknya, iklan Newscastle secara kaku mengetengahkan syarat-syarat yang harus dimiliki pelamar agar bisa diterima di lembaga itu dan tidak melakukan campur tangan terhadap bagaimana seharusnya identitas pelamar itu.
Praktik Sosial
Sampai sekarang kita telah menganalisis teks sebagai teks dan sebagai praktik kewacanaan. Untuk itu marilah kita mengalihkan perhatian kita pada praktik sosial yang salah satu bagiannya adalah dimensi-dimensi bcrikut. Pertama, hendaknya dilakukan eksplorasi hubungan antara praktik kewacanaan dan tatanan wacana (Fairclough 1992b: 237). Termasuk ke dalam jenis jaringan wacana manakah praktik kewacanaan itu? Kedua, tujuan yang ingin dicapai adalah memetakan hubungan kultural, sosial dan nonwacana dan struktur yang menyusun konteks lebih luas praktik ke‘wacanaan itu matriks wacana, dalam istilah Fairclough ((Fairclough 1992b: 237). Misalnya, jenis kondisi ekonomi dan kelembagaan apakah subjek praktik kewacanaan itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab oleh analisis wacana, menurut Fairclough, perlu digunakan teoriteori yang lain, misalnya teori budaya atau sosial yang men. Jelaskan praktik sosial itu.
Dengan demikian, melakukan analisis wacana kritis senantiasa melibatkan paduan trans-disiplin teori-teori yang berbeda dalam kerangka penelitian perspektif ganda teorj linguistik dan analisis tidak pernah mampu menjelaskan aspek nonkewacanaan fenomena tersebut. Chouliaraki dan Fairclough (1999) menguraikan cara-cara analisis wacana dan analisis sosial bisa secara menyuburkan satu sama lain dan memberikan petunjuk tentang bentuk-bentuk teori nonanalisis wacana yang mungkin cocok untuk dimasukkan ke dalam kerangka analisis wacana. Teori-teori analisis wacana dan nonanalisis wacana yang berbeda yang kita gunakan untuk melaksanakan proyek khusus perlu diterjemahkan ke dalam kerangka analitis dan teoretis yang terpadu dan diadaptasikan satu sama lain dan disesuaikan dengan tujuan proyek penelitiannya (Chouliaraki dan Fairclough 1999: 112ff). Pada Bab 5 kami akan membahas secara lebih terinci masalah dan kemungkinan keuntungan analisis wacana perspektif ganda.
Dalam menganalisis hubungan antara praktik kewacanaan dan praktik sosial yang lebih luaslah kajian ini bisa mengajukan kesimpulan-kesimpulan akhirnya. Yang diupayakan untuk dijawab adalah pertanyaan-pertanyaan tentang perubahan dan konsekuensi-konsekuensi ideologisApakah praktik kewacanaan mereproduksi tatanan wacana dan dengan begitu memberikan kontribusi pada upaya mempertahankan keadaan status quo dalam praktik sosial atau apakah tatanan wacana ditransformasikan, sehingga demikian memberikan kontribusi pada perubahan sosial? Apa sajakah konsekuensi ideologis, politik din sosial praktik kewacanaan itu? Apakah praktik kewacanaan menyembunyikan dan memperkuat hubungan kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat atau apakah menantang posisi kekuasaan dengan merepresentasikan hubungan sosial dan realitas dengan cara baru? Dengan penarikan kesimpulan, proses penelitiannya dianggap bersifat kritis dan politis. Kita akan kembali membahas aspek ini pada pokok bahasan berjudul “Hasil-hasil”.
Contoh: Campuran antarkewacanaan wacana universitas tradisional dan promosionral yang telah kita identifikasi dalam iklan Sheffield bisa dipahami sel agai produk pengaburan batas antara dua tatanan wacana tatanan wacana pendidikan tinggi dan sektor bisnis. Wacana universitas tradisional dicampur dengan wacana promosi dunia bisnis. Persebaran wacana promosi pada tatanan wacana nierupakan daya dorong dalam perkembangan kemasyarakatan yang lebih luas yang oleh Fairclough disebut dengan “pemasaran wacana”. Untuk menjelaskan proses sosial yang lebih luas itu, yang juga mencakup daya nonkewacanaan, Fairclough menggunakan teori modernitas akhir. Misalnya, dia menggunakan teori masyarakat pos-tradisionalnya Anthony Giddens, yang menyatakan bahwa identitas dan hubungan sosial masyatakat tidak lagi didasarkan pada posisi sosial yang stabil namun agaknya diciptakan melalui negosiasi-negosiasi dalam interaksi keseharian (Giddens 1991). Dalam teori ini, iklan Sheffield bisa dipahami sebagai refleksi dan daya dorong terjadinya proses perubahan menuju ke arah masyarakat pos-tradisional, sebaliknya iklan Newcastle menjadi contoh reprodukgj berkelanjutan wacana universitas tradisional. Fairclough juga menerapkan teori budaya konsumen (mis Featherstone 1991, Wernick 1991) untuk mendapatkan wawasan tentang peran perluasan wacana menggalakkan persebaran budaya konsumen dan restrukturisasi perekonomian pada kegiatan yang berpusat pada produksi ke konsumsi.
Bila ditempatkan dalam konteks sosial yang lebih luas, dua iklan itu bersama-sama menunjukkan bahwa ada perjuangan terus menerus tentang bagaimana universitas itu semestinya berfungsi dan dipahami di era Inggris modern. Di satu sisi ada kekuatan yang mengharuskan dilakukan redefinisi terhadap universitas-universitas itu sehingga merjadi lembaga-lembaga yang produk-produknya bisa dibeli, dijual dan dinegosiasikan. Universitas baru itu yakni Sheffield City Polytechnique itulah yang mewakili sisi perjuangan yang sekiranya bisa dipahami memiliki hubungan historis yang kuat antara lembaga-lembaga politeknik dan sektor bisnis tempat lembaga-lembaga itu memang ditujukan untuk mencapai kualifikasi-kualifikasi kejuruan bagi lulusannye dibandingkan universitas-universitas tradisional. Di sisi lain ada universitas tua seperti Newcastle di Tyne yang mempet tahankan batas antara universitas dan sektor korporat dat akibatnya mereproduksi definisi yang lebih tradisional terhadap apa dan bagaimana seharusnya universitas itu.
Hasil-hasil Penelitian
Menurut Fairclough, analis wacana hendaknya mem pertimbangkan masalah-masalah etika tertentu tentang peng gunaan umum hasil-hasil penelitiannya Peneliti perlu mengetahu: bahwa ada resiko kalau hasil penelitiannya bisa digunakan sebagai sumberdava rekavasa sosial. Fairclough memandang penggunaan hasil semacam im sebagar pengejawantahan “teknologisas: wacana” (1992b: 221f.), dimana penelitian wacana digunakan untuk mengubah praktkpraktk kewacanaan dan juga melatih masvarakat menggunakan bentuk-bentuk baru praktik kewacanaan misalnya untuk melatih para manajer bisnis.
Sebagaimana vang telah kami sebutkan di atas, tuyuan analisis wacana kritis sebagai kntik eksplanatoris adalah mempromosikan wacana vang lebih liberal dan egaliter dan dengan demikian memayukan demokratisasi. Suatu langkah vang ditempuh menuju ke arah ini adalah membuat masyarakat sadar bahwa wacana berfungsi sebagai bentuk praktik sosial yang merefleksikan dan berpartisipasi dalam penguatan kembali hubungan-hubungan kekuasaan yang tidak merata. Peneliti bisa menerapkan suatu teknik untuk mencapai hubungan ini yang oleh Fairclough diberi label kesadaran bahasa kritis.'"? Kesadaran bahasa kritis hendaknya memberi orang-orang wawasan mengenai praktik kewacanaan yang dia ikuti ketika mereka menggunakan bahasa dan mengkonsumsi teks dan juga tentang struktur sosial dan hubungan kekuasaan yang dibentuk oleh dan ikut dibentuk dan diubah oleh praktk kewacanaan. Melalui pelatihan dalam kesadaran bahasa kitis, orang bisa menjadi lebih sadar terhadap keterbatasan-keterbatasan praktik dan kemungkinan timbulnya perlawanan dan perubahan (Fairclough 1992b: 239).
Jika peneliti berusaha mendorong perkembangan se macam ini, hasil hasil penelitian tna perlu disampaikan se demikian rupa schingga bisa diakses oleh orang -orang yang dijadikan fokus penelitian Jika proses ini memperhhatkan bahwa sekelompok orang tertentu mengendalikan proses komumikasi, kelompok yang lain mungkin mampu meng. gunakan hasil penelitian tersebut untuk mengembangkan bentuk-bentuk komuntkasi vang melibathan distnbusi kekuasaan vang kbih merata ”
DAFTAR PUSTAKA
Phillips, M. W. (2017). Analisis Wacana: Teori dan Metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Komentar
Posting Komentar